Kebakaran Gunung Bulu Saukang Maros, Puluhan Pendaki Dievakuasi
Kebakaran hutan melanda Gunung Bulu Saukang Maros. Sebanyak 68 pendaki dievakuasi, api dari Pos 5 menjalar ke jalur pendakian dan puncak.
Kebakaran hutan dan lahan terjadi di kawasan Gunung Bulu Saukang, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan, pada Minggu malam. Kobaran api memicu pengerahan petugas pemadam dan tim penyelamat, serta evakuasi pendaki yang masih berada di jalur menuju puncak. Penanganan dilakukan di medan perbukitan yang tidak dapat dijangkau kendaraan operasional hingga ke atas.
Peristiwa ini menjadi perhatian karena kawasan tersebut tengah ramai pengunjung saat api pertama kali terlihat. Data posko pantau mencatat ratusan pendaki berada di gunung pada hari yang sama. Fokus awal petugas adalah memastikan seluruh pendaki turun dengan selamat, sambil memantau pergerakan api agar tidak meluas ke area lain.
Api Pertama Terlihat di Pos 5 dan Menjalar ke Jalur Umum

Informasi dari petugas Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (Damkarmat) Maros menyebut titik awal api berada di sekitar Pos 5 Gunung Saukang. Kasi Sarpras dan Informasi Damkarmat Maros, M. Ilham Halim Syah, menyampaikan keterangan tersebut pada Minggu malam, dengan pembaruan lanjutan pada Senin, 7 September. Catatan waktu kemunculan api bervariasi, ada yang menyebut sekitar pukul 20.00 WITA dan ada laporan yang mencatat pukul 20.12 WITA.
Perbedaan penyebutan waktu dan tanggal juga tercatat pada sumber yang dirujuk. Sebagian kutipan menyebut Minggu 6 September, sementara rangkaian penanganan dan evakuasi dilaporkan terjadi Minggu 7 September malam dengan pembaruan Senin 7 September. Perbedaan tersebut disampaikan apa adanya sesuai sumber, tanpa penambahan interpretasi kronologi di luar yang tersedia.
Dari Pos 5, api kemudian bergerak mengikuti jalur pendakian. Relawan SAR yang berada di lapangan, Ondong, menggambarkan api menjalar ke arah jalur umum di Pos 3 dan juga ke kawasan puncak. Gambaran jarak yang disampaikan cukup rinci untuk memahami sebaran. Jarak Pos 5 ke Pos 3 diperkirakan sekitar satu kilometer, sedangkan jarak Pos 5 ke puncak sekitar 300 meter.
Perkiraan sementara luas area terdampak disebut sekitar satu kilometer. Angka tersebut masih bersifat awal. Petugas menyatakan luas areal terbakar masih dalam proses pendataan, sehingga pembaruan resmi menunggu hasil penyisiran lapangan setelah pemadaman lebih terkendali.
Karakter jalur pendakian yang menghubungkan antar pos membuat pergerakan api perlu diwaspadai. Vegetasi semak dan serasah di sepanjang jalur dapat menjadi media rambat ketika kondisi kering. Pada malam hari, jarak pandang terbatas dan asap dapat mengganggu pernapasan, sehingga imbauan untuk segera turun menjadi langkah penting bagi keselamatan pendaki.
Ratusan Pendaki di Kawasan, 68 Orang Dievakuasi dari Atas

Berdasarkan data posko pantau Bulu Saukang, total pendaki yang tercatat berada di kawasan saat kejadian mencapai 337 orang. Dari jumlah itu, sebanyak 68 orang masih berada di atas gunung ketika kebakaran dilaporkan muncul. Kelompok inilah yang menjadi prioritas evakuasi karena posisinya paling dekat dengan area terdampak.
Proses evakuasi dilakukan dengan mengarahkan pendaki untuk segera turun dari puncak dan jalur di sekitarnya. Pendaki yang berada di kawasan Bukit Alvath termasuk yang dievakuasi. Setelah tiba di bawah, pengelola melakukan pengecekan kartu registrasi atau karcis untuk memastikan tidak ada yang tertinggal. Prosedur ini penting ketika jumlah pengunjung besar dan sebarannya tidak terpusat di satu titik.
Petugas menyatakan seluruh pendaki yang sempat terjebak berhasil dievakuasi turun ke posko. Sebagian besar di antaranya kemudian meninggalkan lokasi setelah pendataan. Penurunan bertahap ke posko memungkinkan petugas melakukan pemeriksaan awal, memilah siapa yang memerlukan penanganan lebih lanjut dan siapa yang dapat melanjutkan perjalanan pulang secara mandiri.
Registrasi yang tertib terbukti membantu dalam situasi seperti ini. Dengan data karcis yang dicocokkan, tim di posko dapat memastikan jumlah pendaki yang turun sesuai dengan catatan masuk. Hal ini mengurangi risiko ada pendaki yang terlewat di jalur, terutama pada malam hari ketika komunikasi dan visibilitas terbatas.
Penanganan Medis dan Kondisi Pendaki Terdampak

Dari proses evakuasi tersebut, tiga pendaki perempuan memerlukan penanganan. Dua orang dilaporkan mengalami sesak napas, sementara satu orang mengalami keseleo pada pergelangan kaki. Ketiganya mendapatkan penanganan dari tim gabungan di lokasi, dengan dukungan dari Puskesmas Tompobulu yang turut terlibat dalam operasi.
Keluhan sesak napas pada kejadian kebakaran di area terbuka umumnya terkait paparan asap. Pada malam hari, asap dapat bertahan lebih lama di sekitar jalur dan lembah karena pergerakan udara yang lebih pelan. Penanganan awal biasanya difokuskan pada menjauhkan korban dari sumber asap, observasi, dan pemberian bantuan pernapasan sesuai kebutuhan di posko.
Untuk kasus keseleo, penanganan diarahkan pada stabilisasi dan pembatasan gerak agar cedera tidak bertambah selama proses penurunan. Medan pendakian yang menanjak dan tidak rata membuat risiko cedera kaki lebih tinggi, apalagi ketika pendaki harus bergerak cepat untuk turun dalam kondisi darurat.
Keberadaan tenaga kesehatan di posko menjadi penopang penting. Pos kesehatan lapangan berfungsi sebagai titik triase pertama sebelum diputuskan apakah diperlukan rujukan ke fasilitas yang lebih lengkap. Dalam operasi gunung, keputusan rujukan mempertimbangkan kondisi korban, akses keluar, dan kesiapan transportasi.
Pemadaman Manual di Medan yang Sulit Dijangkau Kendaraan

Upaya pemadaman melibatkan 21 personel dengan dukungan dua armada. Kendaraan pemadam hanya dapat mencapai kaki bukit, sehingga pemadaman di area atas dilakukan secara manual. Petugas menggunakan jet shooter atau pompa punggung, yakni wadah air yang digendong dan disemprotkan langsung ke titik api dan bara.
Metode ini umum digunakan untuk kebakaran di perbukitan. Petugas harus berjalan menyusuri jalur sambil membawa beban air, lalu memadamkan tepi api yang masih aktif serta bara yang tersisa di serasah. Cara ini efektif untuk memutus rantai pembakaran pada semak, meski membutuhkan tenaga dan mobilitas tinggi.
Keterbatasan akses air menjadi tantangan tersendiri. Tidak seperti pemadaman di kawasan permukiman yang dapat mengalirkan air secara kontinu dari hidran atau tangki, pemadaman di gunung mengandalkan pasokan terbatas yang dibawa personel. Karena itu, strategi sering dikombinasikan dengan pembuatan sekat bakar sederhana dan pemantauan bara sisa agar tidak menyala kembali tertiup angin.
Kontur lereng juga memengaruhi perilaku api. Api cenderung merambat lebih cepat ke arah atas lereng karena panas yang naik memanaskan vegetasi di atasnya. Laporan mengenai pergerakan dari Pos 5 ke puncak dengan jarak sekitar 300 meter menunjukkan area puncak perlu mendapat perhatian, karena di sana biasanya menjadi titik berkumpul pendaki dengan jalur keluar yang terbatas.
Damkarmat Maros menyatakan personelnya bersiaga dan siap diturunkan lebih banyak apabila dibutuhkan. Koordinasi dengan Manggala Agni dilakukan mengingat lokasi kejadian merupakan kawasan gunung dan hutan yang memiliki karakteristik penanganan berbeda. Manggala Agni memiliki mandat dan peralatan khusus untuk karhutla, termasuk teknik pemadaman di medan berat yang tidak dapat dijangkau kendaraan biasa.
Koordinasi Lintas Unsur dan Pemantauan yang Masih Berlangsung
Penanganan kebakaran dan evakuasi di Bulu Saukang melibatkan unsur gabungan. Selain Damkarmat Maros dan Basarnas Makassar, unsur yang tercatat terlibat meliputi Koramil Tompobulu, Polsek Tompobulu, Puskesmas Tompobulu, Mapala UMI, komunitas Saukang Explorer, serta masyarakat sekitar. Pembagian peran terlihat jelas, mulai dari pemadaman, pengamanan jalur, pendataan pendaki, hingga dukungan medis.
Basarnas berfokus pada pencarian dan penyelamatan, termasuk memastikan tidak ada pendaki yang tertinggal di jalur. Aparat kewilayahan membantu pengamanan area dan pengaturan arus pendaki yang turun, serta menjaga akses bagi tim pemadam. Komunitas pecinta alam dan pengelola jalur memberikan dukungan pengetahuan medan dan komunikasi dengan pendaki di lapangan, yang sangat membantu navigasi pada malam hari.
Hingga pembaruan terakhir yang disampaikan petugas, proses pemadaman dan pemantauan masih berlangsung. Pendataan luas areal terbakar dilakukan setelah api pokok lebih terkendali, dengan menyisir area terdampak untuk memetakan sebaran dan mengidentifikasi titik bara. Informasi ini menjadi dasar untuk menentukan langkah lanjutan, termasuk penjagaan agar tidak terjadi penyalaan kembali.
Fase pemantauan pada karhutla sering memakan waktu lebih lama dibanding pemadaman aktif. Bara yang tersisa di bawah serasah atau di area yang sulit dijangkau dapat kembali menyala jika tidak dipastikan padam. Koordinasi dengan Manggala Agni pada fase ini membantu memastikan metode pemantauan sesuai standar penanganan karhutla di kawasan hutan.
Bagi pendaki dan masyarakat yang berencana beraktivitas di kawasan gunung, kejadian ini menegaskan pentingnya registrasi yang akurat, kepatuhan pada imbauan petugas, dan kesiapan menghadapi kondisi darurat. Registrasi memudahkan pengecekan jumlah pendaki, sementara kepatuhan untuk segera turun ketika ada potensi bahaya dapat mengurangi risiko paparan asap dan cedera di jalur.
Pengelola jalur juga memiliki peran dalam menyampaikan informasi terkini mengenai status jalur, termasuk kemungkinan penutupan sementara untuk kepentingan pemadaman dan pemulihan area. Komunikasi yang jelas antara pengelola, petugas, dan pendaki membantu memastikan aktivitas pendakian dapat kembali berlangsung dengan aman setelah situasi dinyatakan terkendali. Selama pemantauan masih berjalan, informasi yang tersedia bersifat sementara dan dapat diperbarui setelah pendataan lapangan selesai.
Sumber & Referensi
Referensi berikut digunakan sebagai bahan fakta/rujukan. Artikel disusun kembali secara editorial dan tidak dimaksudkan sebagai salinan sumber.
